Kejuaraan Reli Dunia: Menciptakan Jalan bagi Bintang Pereli Wanita
Tahun lalu, Kejuaraan Reli Dunia (WRC) memulai sebuah inisiatif ambisius yang bertujuan untuk menemukan dan mendukung bintang wanita berikutnya dalam dunia motorsport. Pencarian bakat global ini berupaya untuk menemukan pereli yang dapat mengikuti jejak Michele Mouton, seorang legenda dalam sejarah WRC yang telah memenangkan kejuaraan ini sebanyak empat kali. Namun, tujuan dari program ini lebih dari sekadar pencarian talenta; inisiatif ini berusaha untuk mendobrak batasan yang ada di dunia otomotif, yang tradisionalnya didominasi oleh pria.
WRC, dibandingkan dengan banyak seri motorsport lainnya, telah menunjukkan kepemimpinan dalam meningkatkan partisipasi wanita. Keberhasilan Michele Mouton sebagai runner-up di kejuaraan WRC 1982 menjadi tonggak sejarah yang membuktikan bahwa wanita juga mampu bersaing di level tertinggi dalam olahraga yang ekstrem ini. Namun, hampir empat dekade berlalu dan momen bersejarah tersebut belum berhasil terulang. Meskipun demikian, banyak talenta wanita baru yang muncul.
Di sisi lain, peran co-driver wanita menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Misalnya, Reeta Hämäläinen sukses meraih gelar WRC2 2022, dan Enni Malkonen bersaing di level tertinggi di tahun lalu bersama Sami Pajari setelah merebut gelar WRC3 2022. Melihat tren peningkatan partisipasi wanita ini, WRC kini berharap telah menemukan pereli wanita perintis baru: Claire Schonborn.
Claire Schonborn: Pereli Wanita Masa Depan
Claire Schonborn, seorang wanita berusia 25 tahun asal Jerman, baru-baru ini dinyatakan sebagai pemenang pertama Program Pengembangan Pereli Wanita Beyond Rally WRC. Pengalaman ini menjadi momen yang mengubah hidupnya, mengalihkan fokusnya dari karier sebagai insinyur sistem otomotif ke dunia balap reli yang sempat ia anggap sebagai sebuah mimpi. Setelah berhasil memenangkan adu penalti melawan finalis lainnya, Lyssia Baudet, di Reli Swedia pada Februari lalu, Schonborn siap memulai kariernya sebagai pereli WRC.
Hadiah yang diterimanya, program yang didanai sepenuhnya di WRC Junior, termasuk hak untuk mengendarai Ford Fiesta Rally3 yang dirancang oleh M-Sport. “Saya masih merasa terkejut dengan semua ini, tetapi saya semakin menyadari pentingnya kesempatan ini,” kata Schonborn dengan bersemangat. “Ini adalah Rencana A saya. Tanpa program ini, saya tidak mungkin bisa meraih impian membalap saya.”
Menemukan Talenta Melalui Seleksi Ketat
Bagaimana Claire Schonborn sampai pada momen yang mengubah hidupnya ini? Program pencarian bakat yang dimulai oleh WRC tahun lalu mendapatkan banyak perhatian, menarik aplikasi dari seluruh dunia dan menyaring hingga 15 finalis yang terdiri dari wanita dari berbagai usia dan latar belakang, termasuk Lyssia Baudet (21 tahun, Belgia) dan Emma Chalvin (23 tahun, Prancis). Para finalis ini kemudian dinilai di markas M-Sport Polandia oleh panel ahli yang terdiri dari para veteran di industri.
Penilaian dilakukan berdasarkan kemampuan mengemudi di medan aspal dan gravel, keterampilan dalam menghadapi media, pengetahuan mekanik, serta kemampuan fisik dan membuat pacenote. Akhirnya, setelah penilaian yang ketat, para juri memilih tiga pemenang. Claire, Baudet, dan Jyrkiainen diundang untuk berpartisipasi dalam Reli Eropa Tengah, di mana mereka mengendarai mobil Fiesta Rally3 berspesifikasi JWRC. Meski baru pertama kali bertanding di atas salju, Schonborn menunjukkan kemampuannya dengan finis di urutan ketujuh di kelas JWRC.
Tantangan di Depan
Hasrat Schonborn terhadap dunia balap sebenarnya sudah muncul sejak lama. Orang tuanya adalah pelopor di dunia balap mobil, memotivasi dia untuk mengikuti jejak mereka. Untuk membiayai ambisinya, dia bekerja sebagai insinyur balap untuk acara-acara besar seperti Nurburgring 24 Hours dan Porsche Carrera Cup. Bekerja di bidang ini memberikan bekal yang sangat berharga dalam kompetisi yang dihadapinya saat ini.
“Meskipun pekerjaan ini sangat menuntut, perusahaan saya mendukung saya sepenuhnya untuk mengejar mimpi saya sebagai pereli,” ujar Schonborn. “Sekarang saya bisa fokus pada balapan dan memanfaatkan semua yang saya pelajari di dunia balap dan pekerjaan saya.”
Kisah Schonborn adalah contoh nyata bagaimana jalan menuju kesuksesan pereli wanita masih dipenuhi tantangan. Meskipun ada kemajuan, masuk ke dunia motorsport di level tertinggi tetap menjadi tantangan besar. Namun, keberadaan tim seperti Iron Dames yang menampilkan semua kru wanita menggunakan mobil Citroen C3, menjadi langkah positif bagi perempuan di sektor ini.
Mengurangi Hambatan untuk Generasi Masa Depan
Schonborn percaya bahwa ada kemajuan yang jelas dalam menyongsong masa depan bagi pereli wanita. “Menjadi pereli itu sangat mahal, dan lebih mudah bagi wanita untuk terjun sebagai co-driver. Namun, dengan program WRC ini, semakin banyak kesempatan yang terbuka,” ungkapnya.
Dia juga menunjukkan betapa pentingnya kesempatan yang diberikan oleh program WRC untuk memperkenalkan perempuan baru dalam olahraga motorsport. Dengan semangat dan dedikasi, Schonborn berusaha untuk tidak hanya mencapai prestasi individu, tetapi juga membangun fondasi untuk generasi pereli wanita selanjutnya. “Michele Mouton adalah pahlawan saya. Saya hanya ingin melangkah satu langkah pada satu waktu, tetapi saya sangat berharap untuk menjadi bagian dari perubahan ini.”
Dengan bermodalkan pengalaman dan tekad, Claire Schonborn siap menghadapi tantangan mendatang di kejuaraan yang lebih sulit. Setelah menghadapi reli salju, ia segera akan bersiap untuk menyambut reli jalanan berbatu di Portugal. Meskipun semua itu terdengar menakutkan, semangat dan aspirasi besarnya pasti akan mengantarkannya menuju kesuksesan. Dalam beberapa tahun ke depan, kita mungkin akan melihat wajah baru di jajaran pereli terkemuka di dunia — dan siapa tahu, mungkin Michele Mouton yang baru dalam sosok Claire Schonborn.