Tren Mobil Listrik: Dinamika Global dan Prospek Masa Depan
Industri otomotif global mengalami transformasi signifikan saat masyarakat semakin beralih ke kendaraan listrik (EV). Penelitian yang dilakukan oleh BloombergNEF menunjukkan bahwa Inggris menduduki posisi teratas dalam adopsi EV di antara negara-negara besar di Eropa, melampaui Jerman. Hal ini menandakan bahwa Inggris menjadi pionir dalam upaya global menuju transportasi berkelanjutan.
Pertumbuhan Penjualan Mobil Listrik
Laporan tahunan Electric Vehicle Outlook (EVO) dari BloombergNEF memperkirakan bahwa penjualan kendaraan listrik, termasuk mobil listrik baterai dan hybrid plug-in, akan mencapai hampir 22 juta unit pada tahun ini. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 25% dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan ini seiring dengan penurunan biaya baterai lithium-ion dan peningkatan produksi model-model EV yang lebih terjangkau.
Di balik tren positif ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi. Meskipun penjualan EV global menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, BNEF mencatat bahwa perkiraan adopsi EV jangka panjang dan pendek telah direvisi turun untuk pertama kalinya. Penurunan ini banyak dipengaruhi oleh perubahan kebijakan di Amerika Serikat yang berdampak pada pasar EV global.
Pembagian Pasar Global
China memimpin dalam penjualan EV, menyumbang hampir dua pertiga dari total penjualan global. Eropa menyusul dengan kontribusi 17%, sedangkan Amerika Serikat berada di urutan ketiga dengan 7%. Suatu catatan menarik, kendaraan listrik diperkirakan akan menyumbang satu dari empat kendaraan yang dijual di seluruh dunia pada tahun ini, melambung jauh dari kurang dari 5% beberapa tahun yang lalu.
Kendati demikian, penghapusan standar ekonomi bahan bakar di tingkat federal, pengurangan insentif pajak untuk EV, dan potensi penghapusan kemampuan California untuk menetapkan standar kualitas udara sendiri telah berakibat pada penurunan adopsi EV di AS. Dampak dari situasi ini juga terlihat dalam laju adopsi EV global secara keseluruhan.
Skenario Peralihan Global dan Kapasitas Berlebih
Laporan ini juga menggarisbawahi dua skenario transportasi jalan yang diperbarui. Dalam skenario transisi ekonomi dasar, di mana adopsi EV dipengaruhi oleh tren teknis dan ekonomi saat ini tanpa intervensi kebijakan baru, diperkirakan bahwa EV akan mencapai 56% dari total penjualan kendaraan penumpang global pada tahun 2035 dan 70% pada tahun 2040. Angka ini mengalami penurunan dari 73% yang diperkirakan sebelumnya.
Meskipun adopsi EV melaju pesat, hanya 40% dari armada kendaraan penumpang global diharapkan merupakan EV pada tahun 2040 dalam skenario ini, jauh di bawah target yang diperlukan untuk menjaga emisi transportasi menuju skenario Net Zero.
Colin McKerracher, kepala transportasi bersih dan penyimpanan energi di BloombergNEF, menyatakan, “Tahun 2024 menjadi tonggak penting bagi transportasi elektrifikasi, dengan penjualan kendaraan listrik mencapai rekor tinggi global dan adopsi yang cepat di pasar-pasar baru di Asia dan Amerika Latin. Meskipun faktor-faktor positif ini ada, kami melihat penurunan adopsi EV dalam jangka pendek dan panjang, sebagian besar disebabkan oleh perubahan larangan di AS.”
Permintaan Baterai EV yang Meningkat
Laporan tersebut juga mengidentifikasi bahwa meski permintaan baterai untuk EV terus meningkat, laju pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya. Dari tahun 2025 hingga 2035, outlook permintaan baterai BNEF turun sebesar 8% dibandingkan dengan tahun lalu, menghasilkan 3,4 terawatt-jam baterai lebih sedikit. Sebagian besar penurunan ini (2,8TWh) disebabkan oleh berkurangnya penjualan kendaraan penumpang di AS.
Dinamika ini menciptakan kapasitas berlebih di pasar, yang mendorong biaya baterai lebih rendah dan meningkatkan persaingan di pasar. Di China, rata-rata pemanfaatan pabrik baterai kini berada di bawah 50%. Kendati ada perlambatan dalam jangka pendek, prospek jangka panjang untuk logam baterai tetap cerah seiring akselerasi adopsi EV di semua segmen.
Tantangan Biaya Pengisian Daya
Satu tantangan signifikan bagi adopsi EV yang lebih luas adalah biaya pengisian daya publik. Meskipun mayoritas pengemudi EV saat ini sangat bergantung pada pengisian daya di rumah, yang umumnya 25% hingga 60% lebih murah dibandingkan dengan bensin, biayanya untuk pengisian publik tetap tinggi.
Harga pengisian cepat publik telah meningkat tajam sejak 2022, terutama di AS dan Eropa, menyebabkan biaya per kilometer menjadi lebih tinggi dibandingkan bensin di beberapa lokasi. Oleh karena itu, biaya pengisian ulang diperkirakan akan memberi dampak yang semakin besar terhadap adopsi EV di masa depan dan keseimbangan harga antara EV dan kendaraan berbahan bakar fosil di luar titik penjualan.
Aleksandra O’Donovan, kepala kendaraan listrik di BNEF, menekankan, “Meskipun terdapat lonjakan signifikan dalam adopsi EV secara global, kebijakan yang stabil dan komprehensif tetap penting untuk memajukan adopsi lebih lanjut.”
Temuan Kunci dari Laporan Electric Vehicle Outlook 2025
Beberapa temuan kunci dari laporan ini termasuk:
-
EV Rentang Panjang: EV dengan rentang ekstender (e-REVs) kini menjadi drivetrain yang tumbuh paling cepat dengan penjualan diperkirakan meningkat 83% pada 2024 menjadi 1,2 juta unit.
-
Permintaan Listrik: EV kini menjadi sumber permintaan listrik yang berarti, dengan EV di China kini mengkonsumsi lebih banyak listrik dibandingkan Swedia.
-
Baterai Solid-State: Baterai solid-state kini mulai dikomersialkan dan diperkirakan akan menyumbang 10% dari permintaan baterai EV global pada tahun 2035.
-
Dampak terhadap Pasar Minyak: Dengan bertambahnya jumlah EV, dampaknya terhadap pasar minyak semakin signifikan, terutama di pasar seperti China dan Eropa.
-
Pertumbuhan Pendapatan Pengisian Daya: Pendapatan dari pengisian publik di Eropa dan Amerika Utara diperkirakan meningkat pesat, dari sekitar $10 miliar pada 2025 menjadi $220 miliar pada 2040.
Transformasi menuju mobil listrik menuju dunia yang lebih berkelanjutan merupakan tantangan sekaligus peluang besar bagi industri otomotif. Untuk dapat bersaing di pasar yang terus berubah ini, produsen mobil harus tetap fokus pada inovasi dan strategi jangka panjang dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.