Perkembangan Perempuan dalam Sejarah Formula 1
Sejak awal mula balap mobil, pria telah mendominasi bidang ini. Seorang wanita, pada pandangan umum, lebih cocok untuk menjadi model mobil daripada pengemudi, dan karir dalam bidang teknik atau manajemen tim tampaknya tidak dapat dijangkau. Namun, keberadaan perempuan dalam dunia Formula 1 telah menjadi bagian yang tak terpisahkan, meskipun mereka masih terhitung jarang. Kini, kita dapat menyaksikan semakin banyak wanita berkiprah di lintasan balap, sebuah perkembangan yang sangat berarti dalam pengembangan olahraga ini.
Di tim Red Bull, misalnya, Hannah Schmitz menjabat sebagai Principal Strategy Engineer, sementara Laura Muller berperan sebagai race engineer di Haas. Bernie Collins dan Ruth Buscombe juga telah menempatkan diri mereka sebagai strategis yang diakui dalam F1. Di samping itu, Michaelagh Tennyson menjadi salah satu anggota pit crew teknis di Red Bull, sementara Khloe Collins menjalani tugas sebagai teknisi pembuatan mobil. Upaya mereka semakin terlihat berkat inisiatif seperti In Her Corner dan kehadiran mereka yang semakin banyak di media sosial. Namun, kontribusi perempuan ini bukanlah hal yang baru.
Jejak Sejarah: Wanita di Dunia Balap
Sejak awal perkembangan motorsport, khususnya balap grand prix, wanita telah hadir memberi warna. Nama-nama seperti Camille du Gast, Maria Antonietta Avanzo, dan Elisabeth Junek sudah bertanding di lintasan balap antara tahun 1900-an hingga 1940-an, jauh sebelum kejuaraan modern dibentuk. Maria Teresa de Filippis, misalnya, menjadi wanita pertama yang berhasil memenuhi syarat untuk berlaga dalam F1 Grand Prix pada tahun 1958.
Ironisnya, pada saat dia berkompetisi, De Filippis mendengar komentar merendahkan dari seorang direktur balapan yang mengatakan, “helm yang seharusnya dipakai wanita adalah helm di salon rambut.” Meskipun pandangan tersebut, De Filippis, yang sering dijuluki “il pilotino” karena ukuran tubuhnya yang kecil, tetap bertahan hingga masa pensiunnya di tahun 1959.
Kontribusi perempuan pada dunia otomotif juga meluas di luar lintasan. Pada masa Perang Dunia II, Ratu Elizabeth II bergabung dengan Auxiliary Territorial Service (ATS) sebagai pengemudi dan mekanik, melatih diri dalam pemeliharaan mesin dan memperbaiki truk dan ambulans. Ini memperlihatkan bahwa wanita telah berbagi peran yang vital dalam sejarah otomotif sejak dahulu.
Lebih dekat dengan paddock, sebelum adanya otomatisasi komputer, catatan waktu putaran sering diambil secara manual dari dinding pit—seringkali oleh pacar atau istri pengemudi, yang memegang stopwatch di tangan.

Momen Bersejarah: Lella Lombardi
Hari ini, kita merayakan hari jadi ke-85 kelahiran Lella Lombardi, satu-satunya wanita yang pernah mencetak poin dalam kejuaraan F1. Lombardi tidak hanya menjadi perempuan yang berkompetisi pada level tertinggi dalam balap mobil, tetapi juga merupakan pelopor yang membuka jalan bagi banyak perempuan di masa mendatang.
Hampir tak ada jalan yang mulus bagi Lombardi di F1. Setelah mencoba untuk kualifikasi dengan Brabham yang didanai oleh Automobile Club d’Italia pada tahun 1974, dia berjuang hingga mendapatkan tempat di March Engineering untuk musim 1975. Saat itu, dia menjadi wanita pertama sejak De Filippis yang berhasil lolos untuk mengikuti balapan di F1.
Di balapan pembuka musim di Afrika Selatan, Lombardi membuat sejarah, tetapi puncak kariernya datang saat balapan di GP Spanyol, di mana ia menjadi wanita pertama—dan hingga kini masih satu-satunya—yang berhasil meraih poin kejuaraan dunia. Momen bersejarah ini datang dengan nuansa tragis saat balapan dihentikan setelah kecelakaan fatal. Meskipun hasil tersebut adalah simbolis, dengan hanya setengah poin yang diakumulasikan, Lombardi menunjukkan bahwa perempuan mampu bersaing di level tertinggi.
Setelah GP Spanyol, kesuksesannya berlanjut dengan penampilan kuat lainnya, termasuk menyelesaikan balapan di posisi ketujuh di Nurburgring. Pencapaian Lombardi di lintasan tidak hanya menorehkan prestasi, tetapi juga memperlihatkan keberanian seorang perempuan yang turut menjalani hubungan sama jenis di dunia yang maskulin.
Perempuan dalam F1: Tantangan dan Peluang
Sejak era Lombardi, hanya tiga perempuan lain yang mencicipi dunia F1: Divina Galica, Desire Wilson, dan Giovanna Amati. Di tengah dominasi pria dalam olahraga ini, daftar tersebut tetap pendek. Namun, dengan munculnya inisiatif seperti F1 Academy, serta semakin meningkatnya visibilitas wanita di semua sektor olahraga, ada harapan bahwa pondasi yang dibangun oleh para pel先or ini akan mendorong perubahan besar yang diharapkan dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, perjalanan wanita dalam Formula 1 mencerminkan perjuangan yang berkelanjutan untuk mendapatkan pengakuan dan menghancurkan stereotip. Meskipun telah ada langkah maju, tantangan tetap ada. Namun, dengan semakin banyak wanita yang memasuki berbagai aspek F1, dari manajemen hingga teknik, kita dapat berharap bahwa era baru saling menghormati dan kesetaraan tidak jauh di depan.
Kita berada di ambang sebuah perubahan yang berarti. Dengan kolaborasi, dukungan, dan upaya dari semua pihak, dunia balap mobil bisa menjadi arena yang lebih inklusif dan merayakan keberagaman di dalamnya. Kehadiran perempuan di F1 bukan hanya sekadar keberanian, tetapi juga merupakan langkah penting menuju integrasi dan pengakuan yang lebih besar.