“Mardenborough: Menggapai Mimpi Mengemudikan Hypercar atau LMDh di Tahun 2024”

Jann Mardenborough: Dari Pembalap Sim ke Panggung Dunia Motorsport

Jann Mardenborough menjadi nama yang mencuri perhatian dalam dunia motorsport setelah memenangkan kompetisi Gran Turismo Academy pada tahun 2011. Acara yang dirancang untuk mencari pembalap sim tercepat di dunia ini memiliki tujuan yang jelas: mengidentifikasi bakat-bakat terpendam dalam balap mobil virtual dan mengubah mereka menjadi pembalap profesional. Dengan melalui serangkaian tantangan dan seleksi yang ketat, Mardenborough terpilih untuk menjadi pembalap resmi pabrikan Jepang, Nissan.

Awal Karier dan Perjalanan Balap

Pria kelahiran 1991 ini menghabiskan hampir satu dekade membela nama Nissan, dengan perjalanan karier yang beragam. Mardenborough telah berkompetisi di berbagai arena balap terkemuka, termasuk Formula 3 Jepang, Super Formula, SUPER GT, dan tentu saja, balapan bergengsi Le Mans 24 Hours. Ia menjalani kariernya dengan penuh dedikasi, hingga harus mengakhiri kontrak dengan Nissan pada pertengahan tahun lalu setelah periode pengembangan Formula E.

Setelah berpartisipasi dalam balapan terakhirnya di Fuji 24 Hours pada Mei 2020, Mardenborough berharap untuk menghidupkan kembali karier balapnya. Salah satu upaya yang membuatnya optimis adalah film Gran Turismo, yang menggambarkan perjalanan awalnya dalam dunia motorsport. “Film ini bisa menjadi batu loncatan bagi saya,” katanya dalam sebuah wawancara saat acara Gran Turismo World Series Showdown di Amsterdam, yang digelar sehari setelah pemutaran perdana film tersebut di Belanda.

Kembalinya ke Panggung Balap

Dalam menghadapi tantangan setelah lama tidak bersaing di level tertinggi, Mardenborough menyadari bahwa ia perlu kembali tampil menonjol. “SUPER GT adalah kejuaraan favorit saya, mobil-mobilnya luar biasa dan saya sangat senang bisa berada di sana,” tambahnya. Namun, ia menyadari bahwa menjadi kurang terlihat di arena balap global selama bertahun-tahun membuatnya harus memulai dari bawah lagi. “Ketika kembali, Anda harus berjuang keras. Film ini membantu nama saya menjadi lebih dikenal,” jelasnya.

Jann Mardenborough pun membuka peluang untuk standar baru di balapan dengan menyatakan harapannya untuk memperoleh kursi di kategori Le Mans Hypercar atau LMDh. “Itu adalah impian saya. Mengikuti balapan GT3 di IMSA juga akan menjadi pengalaman yang menarik,” ujarnya. Selama promosi film, Mardenborough terlihat aktif di paddock, berdiskusi dengan tim, dan memperbarui citra dirinya setelah sekian lama diasosiasikan dengan Nissan.

Pengalaman Unik di Set Film Gran Turismo

Salah satu pengalaman menarik yang dialami Mardenborough adalah saat ia menjadi stuntman dalam film biopic yang diadaptasi dari permainan video populer, Gran Turismo. Dalam produksi tersebut, ia bahkan berperan sebagai pengemudi pengganti dirinya sendiri di prototipe Ligier JS PX. Syuting dilakukan di beberapa sirkuit terkenal seperti Hungaroring dan Red Bull Ring, tetapi tantangan terberat muncul saat mereka berada di Slovakia Ring.

“Pengambilan gambar malam hari di Slovakia Ring merupakan tantangan tersendiri. Kami mengemudikan mobil LMP dalam kondisi yang sulit, terutama ketika jalannya basah. Situasi ini membuat mobil terasa seperti perahu saat meluncur di genangan air,” kenangnya. Ia menggambarkan momen tersebut sebagai salah satu yang paling sulit, akibat visibilitas terbatas dan jalanan yang belum sepenuhnya kering. “Meski sulit, pengalaman ini sangat menyenangkan dan unik,” tambahnya.

Kompetisi Gran Turismo: Menemukan Bakat Baru

Setelah Gran Turismo Academy berlangsung terakhir kali pada tahun 2016, dunia esports masih memiliki platform lain untuk menemukan bakat baru dalam balapan melalui Gran Turismo World Series yang diadakan setiap tahun. Acara ini memungkinkan siapa pun yang memiliki Gran Turismo 7 dan PlayStation untuk berpartisipasi, memberikan kesempatan kepada para sim racer dari seluruh dunia untuk bersaing. Tujuan dari kompetisi ini adalah untuk mempersempit peserta menjadi para pembalap terbaik, yang kemudian berkompetisi untuk mendapatkan gelar juara dalam dua kategori, yaitu Piala Produsen dan Nations Cup.

Dalam ajang Showdown baru-baru ini, tim asal Spanyol berhasil meraih gelar juara Nations Cup. Mardenborough pun menyatakan pendapatnya tentang kualitas para pembalap muda saat ini. “Tentu saja mereka memiliki kemampuan untuk bersaing di Le Mans 24 Hours, tetapi pertanyaannya adalah: apakah mereka mau mengambil langkah ini?” katanya. “Bagi saya, pengalaman nyata di lintasan adalah yang terbaik.”

Refleksi dan Harapan untuk Masa Depan

Dengan rekam jejak yang mengesankan, dan keinginan mendalam untuk kembali bersaing di ajang balap yang lebih tinggi, Jann Mardenborough tetap optimis untuk masa depannya. Ia berharap bisa memperluas jangkauan kariernya dan menjelajahi kompetisi yang lebih luas, sambil tetap setia kepada passion-nya dalam motorsport. “Seiring dengan kemajuan teknologi dan ketertarikan baru terhadap esports, saya percaya bahwa masa depan motorsport akan lebih cerah dan penuh peluang bagi para pembalap,” ujarnya.

Pada akhirnya, perjalanan Jann Mardenborough adalah contoh inspiratif tentang bagaimana seseorang dapat mentransformasi hobi menjadi karier yang sukses. Dari pembalap sim yang meraih puncak karier hingga memasuki dunia nyata motorsport, Mardenborough menunjukkan bahwa dengan dedikasi, semangat, dan kemauan untuk berkembang, impian dapat diwujudkan. Caranya kini adalah memastikan bahwa nama dan bakatnya tidak hilang dalam pengingat dunia. Mardu akan terus berusaha keras untuk kembali ke garis depan balapan, menciptakan momen yang tak terlupakan.

Leave a Comment